Masalah Klasik Sepak Bola Indonesia

Image: sumber: sidomi.com

Liga Lndonesia yaitu Liga 1 gojek-Traveloka sudah bergulir namun permainan di timnas masih melempem pada pertandingan beberapa waktu lalu. Pergantian pelatih sudah di lakukan oleh Indonesia yang didatangkan pelatih asal spanyol. Padahal pelatih didatangkan dari negeri matador yang notabennya filosofi permainannya diadaptasi dari tiki-taka. Filosofi tiki-taka yang di terapkan oleh luis Mila tidak dapat berjalan lancar. Menurut Ucer Apa yang menjadi kendala Luis Mila tidak dapat menerapkan filosofinya ke dalam timnas?
Berikut ini menurut pengamat sepak bola dan keluhan dari Luis Mila di timnas Indonesia:

1. Pembinaan Pemain Muda Indonesia.
Telah diungkapkan oleh pelatih timnas Indonesia Luis Mila kurangnya pembinaan usia muda pada umur 5-15 tahun.  Luis Mila memaparkan pada usia dini 5-12 tahun anak-anak hanya bermain sepak bola untuk bersenang-senang. baru pada usia 13-15 belas tahun anak-anak diberikan pemahaman taktik dan strategi sepaak bola. Kurangnya pembinaan dan kompetisi di usia dini inilah membuat timnas Indonesia kesulitan berbicara pada turnamen bergensi dunia.

2.Filosofi  Permaian di Liga Indonesia.
Dilihat dari segi permainan liga Indonesia para pemain bermain kurang sabar dalam membangun serangan. Jika dibandingkan dengan negeri tetangga seperti Thailand mereka membangun serangan dengan bersabar bolah mengalir lewat tengah. Perhatikan jika liga Indonesia filosofi permainannya langsung ke garis serang, artinya membangun serangan tidak melalui lini tengah melainkan langsung umpan lambung ke depan. Jika dilihat dari pertahanan di Liga Indonesia para defender langsung membuang bola ketika mereka mendapat serangan dari musuh. Coba perhatikan di liga-liga eropa yang maju mereka cenderung lebih tenang dan tidak panik. Dari sinilah Timnas Indonesia tidak berkembang cara bermainnya walaupun sudah didatangkan pelatih dari Spanyol.

3.Fasilitas Rumput Lapangan
Terlihat kualitas rumput di Stadion-stadion Indonesia buruk, coba lihat pantulan bola saat liga 1 bermain. Meskipun terdapat beberapa lapangan dengan kualitas bagus namun masih bisa dihitung dengan jari. Kendala kualitas rumput lapangan sangat krusial, bagaimana tidak jika umpan-umpan pendek tidak dapat terkontrol dengan baik bagi pemain akan merugikan para pemain. Jika kita lihat negara tetangga seperti Thailand yang persepakbolaanya lebih maju dari kita kualitas rumput dan tekstur lapangan sangat rata. Tidak bisa dipungkiri bahwwa kualiitas rumput dan teksur lapangan sangat mempengarui permainan. Masih ingat dengan pertandingan Manchaster Unaited dan Rostov bagaimana Jose Morinho mengeluhkan kondisi lapangan di Stadion Rostov. Dengan kejadian itu betapa krusial faktor lapangan bagi permainan sepak bolah. Mungkin harus ada regulasi dari pihak PSSI untuk perbaikan lapangan sepak bolah di Indonesia.

4. Fasilitas Training Champ
Tempat latihan di club-club Indonesia masih kurang memenuhi standart internasional. Dimulai dari lapangan latihan, tempat kebugaran, alat-alat latihan dan lainnya masih kurang. Seperti yang dikeluhkan Esisen saat pertama kali bermain di lapangan tempat latihan Persib Bandung. Bisa dibayangkan club sekelas Persib Bandung saja lapangan latihannya masih dikeluhkan pemain kelas dunia, bagaimana dengan club sepak bola lainnya.  Namun ada kabar gembira dari PSSI yang akan membangun training champ pada tahu 2015 berstandart Internasional. Semoga saja di ikuti oleh Club yang berlaga di Liga Indonesia.

Andai saja empat kekurangan tersebut bisa di tanggulangi bukan tidak mungkin Indonesia bisa menembus piala dunia. Suport terus persepak bolaan Indonesia, mungkin bisa dimaklumi karena PSSI masih berbena untuk menjadikan pesepakbolaan Indonesia maju. Bukan tidak mungkin nantinya timnas Indonesia bermain di Piala dunia yang suda di idam-idamkan.
Menurut sobat gimana?

Komentar